Rabu, 08 April 2009

AWALI HIDUP KITA TANPA BURUK SANGKA

Fenomena tuduh menuduh mulai menggejala akhir-akhir ini ,karena suatu hal ,bisa berupa pernyataan atau peristiwa spesifik,seseorang atau kelompok orang dengan mudahnya melontarkan tuduhan pada orang atau pihak lain.dan dengan enteng pula pihak yang dituduh balik menuduh.jadilah tuduh menuduh menjadi sebuah perilaku biasa dan dibiasakan.padahal,tuduh menuduh bukan perkara sepele.

Suatu tuduhan negatif bisa memicu berbagai tindakan zalim berupa permusuhan,pertengkaran,penyiksaan hingga pembunuhan.minimal,menyebarnya sebuah isu negatif tentang perilaku seseorang dapat menjatuhkan dan menodai nama baiknya dimata masyarakat ,dalam skup mikro bathiniyah , tuduh menuduh adalah ungkapan hati tentang ketidakberesan yang dilakukan seseorang yang biasa disebut dengan suudzan atau buruk sangka .Said Hawwa dalam Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus menyebut suudzan sebagai salah satu bentuk kriminal hati (jarimatul qalb )

Dari sikap itulah biasanya sebuah tuduhan berawal .sikap berburuk sangka terhadap seseorang yang kemudian diekspresikan secara lisan dan disebarluaskan kepada khalayak itu disebut qadzaf .menyebarnya isu tersebut selanjutnya melahirkan syak wasangka atau dugaan-dugaan negatif yang membentuk persepsi miring terhadap seseorang.dalam proses selanjutnya,hembusan isu atau kabar burung bisa kian menggelembung karena mendapat bumbu informasi tambahan yang disampaikan dari mulut kemulut,akhirnya ,meletuplah fitnah .

Buruk sangka telah menjadi hantu berkeliaran disekitar kita , kadang ia menjadi angin semilir yang menghembus bersama bisikan syetan.mendorong orang-orang yang bermental busuk untuk bertindak onar dan berlaku semena-mena .buruk sangka telah meluluhlantahkan harapan banyak orang,ia bisa membalikkan banyak hal dengan cepat,orang baik bisa dihajar karena dituduh maling,orang kehilangan dompet justru bisa dituduh pencopet,banyak orang yang sudah jatuh masih ditimpa tangga.

Itu sebabnya ,bahaya yang ditimbulkan oleh sebuah fitnah disebut dalam Al-Qur’an lebih dahsyat dari pada pembunuhan ,peristiwa pembunuhan an sich akan menimbulkan lenyapnya nyawa , sedangkan fitnah dapat melenyapkan nyawa dan kehormatan sekaligus.corengan hitam akibat sebuah fitnah bahkan bisa terwarisi oleh sanak keluarga dan saudara lainnya .

Karenanya ,agama Islam dengan tegas menyuruh ummatnya menjauhi fitnah dan buruk sangka,Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”(Qs.Al -Hujurat:12)

Alasan pelarangan itu menjadi sangat jelas bila melihat alur lahirnya sebuah prilaku,secara teori ,semua tindakan manusia diperintah dan dikendalikan oleh otaknya, sedang perintah itu sendiri merupakan kesimpulan dari infomasi yang telah ia miliki. bila informasi tersebut tidak benar akan terjadi banyak distorsi dan kesalahan sikap . demikianlah Imam Ibnu Qayyim juga menyatakan ,”segala amal dan prilaku diawali dari persepsi dan pandangan seseorang.”

Maka ,ketika Islam melarang keras sikap buruk sangka, semakin menegaskan bahwa penyelesaian suatu masalah harus dimulai dari bibitnya, dan .dengan melarang buruk sangka , artinya agama islam mengajarkan bagaimana memangkas masalah sejak dari akar utamanya.

Memang ,munculnya penyakit cepat menuduh, cepat terbakar emosi , bahkan terprovokasi dalam suatu masyarakat, bisa jadi merupakan akumulasi kekecewaan yang terus membuncah.di negeri ini sendiri , dalam kurun waktu yang sangat panjang, banyak orang tertekan, terdzolimi, teraniaya, tanpa bisa melakukan pembelaan, apalagi perlawanan.

Diperlukan ketulusan untuk senantiasa berpikir positif, dalam perspektif maslahat yang lebih luas .tanpa keengganan untuk tetap menegakkan hukum yang berlaku atas berbagai macam pelanggaran.dalam bahasa lain, sebisa mungkin perlu dibudayakan sikap-sikap dan prasangka baik, kecuali pada kasus-kasus yang sudah diyakini penuh tidak ada peluang untuk disikapi dengan prasangka baik. kebiasaan berburuk sangka telah ada sejak lama.disekitar kita, bila dicermati, bertebaran sikap manusia yang berprasangka buruk, sebutlah pandangan mata curiga, sinis, ekspresi kecut yang penuh apriori , sampai dalam bentuk sikap kasar yang tidak bersahabat.

Banyak factor yang memicu merebaknya prasangka-prasangka buruk :

1. Faktor Lingkungan

Lingkungan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi lahirnya sikap buruk sangka. lingkungan dimaksud bisa keluarga, masyarakat, tempat bekerja, sekolah dll. lingkungan yang kejam, kotor , dan tidak sehat seringkali memberi pengaruh kuat bagi lahirnya kebiasan buruk sangka, bahkan dalam budaya orang-orang primitif, buruk sangka seringkali menjadi acuan utama kehidupan social mereka, sebagai kompensasi timbal balik dari lingkungan yang memang buruk .

Lingkungan hidup yang keras bisa menumbuh suburkan sikap cepat curiga . ia identik dengan medan tempat setiap orang harus bertarung mempertahankan hidupnya. berjibaku mengejar apa yang bisa ia makan, meski harus memangsa orang lain dengan jalan yang salah. bagaimana dengan lingkungan kita ??

2. Keyakinan yang salah

Keyakinan yang salah bisa melahirkan buruk sangka.termasuk dalam kategori ini adalah ideology atau aqidah yang salah. seperti berburuk sangka kepada Allah, dengan menuduh-Nya tidak adil. orang-orang jahiliyah sebelum islam punya keyakinan yang terkait erat dengan prasangka buruk, setiap memasuki hari-hari yang baru, mereka mengukur nasib dengan apa yang pertama kali mereka lihat. jika pagi mereka melihat ular, atau burung gagak, atau apa saja yang berwarna hitam, pertanda hari buruk sedang menanti . dalam islam, prilaku seperti ini disebut tathayur, secara bahasa, tathayur artinya sebuah prilaku menyandarkan sikap kepada burung. tindakan ini dilarang keras oleh islam karena bisa merusak aqidah .

3. Kepentingan politik

Kepentingan-kepentingan politik juga menjadi pemicu lahirnya sikap buruk sangka. definisi kepentingan politik yang dimaksud tidak selalu harus dalam konteks kekuasaan disebuah negara, dari tingkat lurah sampai presiden. bisa saja berbentuk politik pencapaian jabatan disebuah instansi, politik pencapaian tujuan tertentu dalam sebuah organisasi, atau dalam sebuah kominitas masyarakat. dizaman soeharto berkuasa ,tak sedikit kebijakan politik yang dijalankan berdasarkan buruk sangka, kekhawatian dan ketakutan kepada ummat islam dalam kurun yang cukup lama telah menjadi alasan untuk berlaku diskriminatif kepada anak bangsanya sendiri .

Pendek kata ,kepentingan politik telah menjadikan alasan sistem kewaspadan nasional sebagai pembenar tindakan-tindakan brutal ,yang dasrnya hanya prasangka buruk .Identifikasi bahwa semua orang Islam yang nampak konsisten disebut bagian dari ekstrim kanan , yang akan merongrong kewibawaan negara , menggulingkan pemerintahan yang sah , adalah idiom-idiom buruk sangka yang terus dijadikan komoditas politik pada masa itu , sayangnya ,idiom ekstrim kanan juga masih didegungkan oleh penguasa saat ini .bahkan,muncul kosa kata baru yaitu teroris,dan yang menjadi kebiasaan saat ini adalah menyebarkan prasangka dan keresahan dengan menyebut inisial ,sebagai tertuduh dalam beberapa kasus.

Tentu semua orang tidak ingin , bila bangsa ini terus menerus dipimpin oleh penguasa yang kebijakan politiknya hanya berdasarkan buruk sangka, berpijak pada asumsi-asumsi buta, atau bahkan hanya karena selera suka atau tidak suka .

4. Ilmu yang pas-pasan

Keterbatasan ilmu juga menjadi pemicu bagi munculnya sikap buruk sangka.minimnya pengetahuan akan berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk memandang masalah.menyimpulkan, serta menentukkan sikap atas berbagai peristiwa.

Dalam beberapa disiplin ilmu,kata prasangka secara definitive diartikan sebagai penguasaan masalah sebesar 50% atau lebih .ia sekaligus lawan dari kata faham.yaitu penguasaan masalah hingga seratus persen,maka,orang yang tidak paham,sangat mungkin memaknai sesuatu dengan cara yang salah .

Setiap orang harus sadar ,bahwa diatas yang tahu masih ada yang lebih tahu .diatas yang berilmu msih ada yang lebih berilmu .apalagi hampir semua ilmu itu dinamis,berkembang ,dan memunculkan hal-hal baru .

Buruk sangka karena keterbatasan pengetahuan bisa dihindari dengan mencari tahu.dahulu ,ketika Rasulullah memutuskan menerima perjanjian damai dengan orang-orang quraisy di hudaibiyah ,sebagian sahabat,termasuk umar bin khottab memandang itu sebagai kekalahan,tetapi dikemudian hari ia menyadarai kekeliruan dugaannya .

Dahulu,musa as menganggap hidhir telah bertindak aniaya, membolongi perahu,membunuh anak , serta memperbaiki bangunan disuatu kampung yang penduduknya pelit. setelah dijelaskan alasannya barulah ia menyadari bahwa dugaannya itu salah .

5. DiskriminasiBesar-kecil

Adanya diskriminasi atasorang-orang kecil oleh orang-orang besar dalam berbagai bentuk juga merupakan salah satu korban buruk sangka, seringkali orang-orang kaya memenuhi pikirannya dengan persepsi bahwa orang-orang miskin itu kumuh, udik, bodoh, bahkan pencuri . padahal ,orang-orang besar banyak juga yang profesinya sebagai koruptor dan penjahat berkerah putih .

6. Estimasi pertahanan diri

Kadang ,orang punya prasangka buruk demi kepentingan mempertahankan diri.rasa aman yang ingin diperoleh seseorang sering kali diwujudkan dengan membuat lingkar pengaman secara psikologis atas semua orang yang dihadapi.Kebiasaan ini bahkan telah merambah ke sector-sektor kehidupan harian kita .

Estimasi pertahanan diri yang dasarnya buruk sangka sangat berbahaya.ia bisa melahirkan sebuah stereotype . Sebuah penyeragaman pandangan atas suatu obyek dengan totalitas .seperti sangkaan bahwa laki-laki yang menuntun motor ditengah malam itu pasti pencuri ,atau setiap orang yang berambut panjang itu pasti preman,dll.

Urat nadi buruk sangka masih sangat banyak ,dengan menekan semaksimal mungkin sikap buruk sangaka, setidaknya kita telah memberikan kontsribusi yang cukup berarti bagi kelangsungan hidup banyak orang. ya, kita memang harus berpikir sebelum bertindak , kita harus berpengetahuan sebelum berkesimpulan .

Menurut Imam Ghozali ada beberapa hal yang bisa menghindarkan diri dari buruk sangka :

Pertama : Tumbuhkan empati kepada orang yang menjadi objek buruk sangka. rasakanlah bila objek buruk sangka itu adalah diri kita sendiri yang sangat mungkin mengalami banyak kekurangan

Kedua : Teliti dari mana sumber perasaan negatif , atau buruk sangka itu muncul.

Ketiga : Bila sumber informasi itu muncul dari dalam hati sendiri tanpa sebab-sebab yang jelas ,kecuali sekedar penampilan lahir atau kecurigaan belaka ,beristigfar,dan mohon ampunlah pada Allah .

Keempat: sadarilah bahwa lahiriyah seseorang tidak selalu identik dengan bathinnya, islam sama sekali tak mengajarkan penilaian seseorang dari aspek lahirnya .

Kelima :Terimalah fakta bahwa setiap orang pasti pernah lepas kontrol sesekali, tidak perlu mengembangkan perasaan dan dugaan terlalu besar dengan suatu kesalahan yang dilakukan seseorang , Rasulullah bersabda :”Berbahagialah orang yang disibukkan oleh aib dan kesalahan dirinya , ketimbang sibuk oleh aib dan kesalahan orang lain .”

Keenam: salah satu pemicu buruk sangka adalah rasa was-was atau bayangan ketakutan yang akan kita terima akibat pihak tertentu. untuk mengatasinya kita tumbuhkan keyakinan kuat bahwa Allah maha mengetahui apapun yang terjadi adalah kehendak kekuasaan Allah .

“Sesungguhny orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga .janganlah kamu mengira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu .Tiap-tiap dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya.dan siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar .”(Qs.An –Nur:11-12 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam...
Selamat bergabung sahabat eL_BAQ,Jangan lupa sarannya ya...:)